Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membaca Spesifikasi Receiver Parabola

Sisi belakang receiver satelit berwarna perak dengan lubang ventilasi di penutup atas dan deretan port di bagian bawah, judul Spesifikasi Receiver tertempel di bagian bawah foto
Sebagian isi lembar spesifikasi sebenarnya sudah tercetak di badan perangkatnya. Tulisan 13/18V di dekat lubang antena, misalnya, menandakan receiver inilah yang memberi tegangan ke LNB. Foto: Raimond Spekking / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, diberi teks judul oleh Sumber Tips

Jawaban langsung: Dari seluruh daftar spesifikasi receiver, tiga hal yang benar-benar menentukan: standar penerimaannya harus DVB-S2, kemampuan memutar videonya harus sesuai siaran sekarang, dan port keluarannya harus cocok dengan TV yang Anda punya. Sisanya fitur tambahan yang boleh dipertimbangkan belakangan, dan sebagian jarang dipakai.

Ringkasan

  • Angka terbesar di kotak kemasan jarang menyangkut hal yang menentukan siaran Anda bisa dibuka atau tidak.
  • Perangkat generasi lama tetap dijual di pasaran, jadi memeriksa standar penerimaannya bukan kehati-hatian berlebihan.
  • Mutu gambar ditentukan rantai di luar rumah, bukan harga kotak yang diletakkan di bawah televisi.

DVB-S2: baris yang paling menentukan

Siaran satelit memakai standar penyiaran, dan yang berlaku umum sekarang adalah DVB-S2, penerus DVB-S yang disahkan ETSI pada Maret 2005 dan sekitar 30 persen lebih hemat kapasitas. Karena lebih hemat, penyedia siaran memakainya untuk memuat lebih banyak kanal pada satu transponder.

Akibatnya sederhana: receiver yang hanya mendukung DVB-S tidak bisa diandalkan untuk siaran masa kini. Perangkat seperti itu masih beredar, terutama di lapak barang lama, jadi periksa baris ini lebih dulu sebelum melihat yang lain. Kalau tertulis DVB-S2, biasanya DVB-S yang lebih tua juga ikut didukung.

Kemampuan memutar gambar, bukan cuma menerimanya

Ada dua hal berbeda yang sering tertukar. Standar penerimaan mengurus bagaimana sinyal dibawa dari satelit, sedangkan pemutar video mengurus bagaimana gambar dipadatkan. Di lembar spesifikasi, bagian kedua biasanya tertulis MPEG-2, MPEG-4 alias H.264, atau H.265 pada perangkat yang lebih baru.

Receiver yang hanya mengenal MPEG-2 akan melewatkan banyak kanal. Yang mendukung H.264 sudah memadai untuk kebanyakan siaran, dan H.265 memberi ruang untuk kanal yang lebih hemat kapasitas di kemudian hari. Perlu diingat, kalau televisinya masih tabung, gambar tetap turun mengikuti kemampuan layarnya, seperti dibahas di Pasang Receiver ke TV Lama Tanpa HDMI.

Port keluaran: cocokkan dengan televisi yang ada

Lihat bagian belakang perangkat sebelum membayar. Yang dibutuhkan paling tidak satu di antara dua ini: HDMI untuk televisi sekarang, atau tiga lubang AV untuk televisi lama. Sebagian receiver masih menyediakan keduanya sekaligus, dan itu pilihan paling aman kalau di rumah ada dua jenis televisi.

Satu catatan kecil: port antena biasanya diberi tulisan seperti 13/18V, dan itu menandakan receiver memberi tegangan ke LNB lewat kabel yang sama. Arti tegangan itu dijelaskan di Arti Angka di Menu Instalasi Receiver.

Slot kartu dan sistem pengacakannya

Untuk siaran berlangganan, yang menentukan bukan merek receivernya melainkan apakah perangkat itu dikenali layanan yang Anda pakai. Ada receiver yang sistemnya sudah menyatu di dalam dan kartunya terpasang permanen, ada pula yang menyediakan slot kartu terpisah. Pastikan dulu layanan yang Anda tuju memang mendukung perangkat tersebut, karena receiver yang tidak dikenali tidak bisa dibuka paketnya berapa kali pun voucher dibeli. Perbedaan antara layanan dan perangkatnya dibahas di Perbedaan Nex Parabola dan Matrix Garuda.

Fitur yang banyak dijual, jarang dipakai

Tiga flashdisk berwarna merah, biru, dan kuning tergeletak di permukaan putih, dua di antaranya dengan konektor USB terbuka
Fitur rekam pada receiver membutuhkan media penyimpanan yang dipasang sendiri. Flashdisk kecil cepat penuh, dan tidak semua receiver sanggup membaca format yang dipakai di komputer. Foto: Jacek Halicki / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Tiga yang paling sering jadi bahan jualan:

  • Fitur rekam lewat USB. Berguna, tetapi butuh media penyimpanan tersendiri, dan formatnya harus yang dikenali receiver.
  • Dukungan WiFi. Biasanya berarti perangkat bisa disambungkan ke internet untuk aplikasi tambahan, bukan untuk menerima siarannya. Siaran tetap datang dari satelit, seperti dijelaskan di Apakah TV Parabola Butuh Internet.
  • Daftar satelit bawaan yang panjang. Nyaris tidak berpengaruh, karena yang dipakai cuma satelit yang dituju piringan Anda.

Satu lagi yang layak diperiksa langsung di toko: panel tombol di badan receiver. Perangkat yang tombolnya cuma satu akan merepotkan pada hari remotnya hilang atau baterainya habis tengah malam, dan itu kejadian yang lebih sering daripada kerusakan apa pun.

Yang tidak tercetak di kotaknya

Tiga hal yang justru sering menentukan kepuasan Anda setahun kemudian: ketersediaan remot pengganti, ketersediaan layanan purnajual di kota Anda, dan apakah perangkat itu masih didukung ketika penyedia siaran memperbarui sistemnya. Tidak satu pun tercetak di kemasan, dan semuanya baru terasa setelah dipakai. Kalau yang Anda timbang justru perangkat bekas, patokan pemeriksaannya ada di Cek Ini Sebelum Beli Parabola Bekas.

Receiver mahal bikin sinyal lebih kuat?

Tidak. Kekuatan sinyal ditentukan ukuran piringan, mutu LNB, dan ketepatan arahnya, bukan oleh harga receiver. Receiver mahal bisa lebih cepat berpindah kanal atau lebih lengkap fiturnya, tetapi tidak menambah sinyal yang sampai ke kabel.

Apa itu blind scan di daftar fitur?

Kemampuan menyisir seluruh rentang frekuensi tanpa memakai daftar transponder yang tersimpan. Berguna kalau siaran berpindah ke titik yang belum terdaftar, dan tidak perlu dipakai dalam pemakaian sehari-hari.

Satu receiver untuk dua layanan berbeda, bisa?

Tergantung sistem pengacakan yang dipakai masing-masing layanan, dan jawabannya sering tidak. Tanyakan langsung ke layanan pelanggannya sebelum membeli, bukan ke penjual perangkatnya.