Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Beda STB Android dan Receiver Parabola

Kotak STB Android hitam tipis dilihat dari sudut, memperlihatkan deretan port HDMI, USB, jaringan, dan daya, judul STB Android tertempel di bagian bawah foto
Perhatikan deretan portnya: HDMI, USB, jaringan, dan daya. Tidak ada satu pun lubang berulir untuk kabel antena, dan dari situ saja sudah jelas perangkat ini tidak bisa menerima siaran satelit. Foto: Justin Ormont / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0, diberi teks judul oleh Sumber Tips

Jawaban langsung: Keduanya kotak kecil di bawah televisi, tetapi pekerjaannya berbeda. Receiver parabola mengubah sinyal dari piringan menjadi gambar, sedangkan STB Android memutar tontonan yang datang dari internet. Satu tidak bisa menggantikan yang lain, dan kartu langganan parabola tidak bisa dipindahkan ke perangkat Android.

Ringkasan

  • Perbedaan paling cepat terlihat dari lubang di badan perangkat, bukan dari tampilan menunya.
  • Tanpa sambungan internet yang layak, perangkat Android tidak menghasilkan tontonan apa pun.
  • Sebagian receiver sekarang menyediakan aplikasi, tetapi fungsi penerimaannya tetap datang dari bagian satelitnya.

Lihat lubang di belakangnya

Ini pemeriksaan yang paling jujur dan butuh waktu dua detik. Receiver parabola selalu punya lubang berulir bertuliskan kurang lebih LNB IN, tempat kabel dari piringan masuk, dan biasanya ada tulisan 13/18V di dekatnya karena receiver memberi tegangan ke LNB. STB Android tidak punya lubang itu sama sekali; yang ada HDMI, USB, jaringan, dan daya.

Arti tulisan 13/18V dan isian lain yang berhubungan dengannya dijelaskan di Arti Angka di Menu Instalasi Receiver.

Dari mana isinya datang

Receiver menerima pancaran yang turun dari satelit dan membukanya di tempat. Tidak ada kuota, dan jumlah penonton tidak mengubah apa pun. STB Android bekerja terbalik: ia mengunduh tontonan lewat jaringan, sehingga setiap jam menonton memakai data. Cara kerja siaran satelit dibahas di Apakah TV Parabola Butuh Internet, dan perbandingan antena keduanya ada di Beda Parabola TV dan Internet Satelit.

Cara keduanya gagal pun berbeda, dan itu berguna untuk mengenali sumber masalah. Siaran satelit memburuk saat hujan deras lalu pulih sendiri, seperti dibahas di Siaran Parabola Hilang Saat Hujan. Tontonan dari internet justru tersendat pada jam ramai meski langit cerah, karena yang penuh jaringannya, bukan udaranya.

Kartu langganan tidak bisa pindah

Sisi belakang receiver satelit berwarna perak dengan lubang antena berulir di sisi kiri dan tulisan tegangan di sebelahnya
Sisi belakang receiver satelit. Lubang berulir di kiri beserta tulisan tegangan di sebelahnya adalah bagian yang tidak akan Anda temukan pada perangkat Android mana pun. Foto: Reise Reise / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Paket berlangganan parabola terkunci pada perangkat yang terdaftar, bukan pada kartu semata. Karena itu kartu dari receiver lama tidak akan berfungsi di STB Android, bahkan kalau perangkat itu punya slot yang bentuknya mirip. Hubungan antara kartu, paket, dan perangkat dibahas di Cara Mengatasi Siaran Diacak di Matrix Garuda, sedangkan hal yang perlu dilihat saat membeli perangkat baru ada di Membaca Spesifikasi Receiver Parabola.

Kenapa banyak yang menawarkannya sebagai pengganti?

Karena dari sisi tontonan hasilnya bisa terlihat mirip: ada banyak kanal, ada siaran langsung, dan tampilannya rapi. Yang tidak ikut disebut biasanya syaratnya, yaitu sambungan internet yang stabil dan kuota yang cukup. Di rumah yang internetnya terbatas, perangkat Android berubah jadi kotak yang hanya memutar menu. Pertimbangan untuk daerah yang jaringannya tipis dibahas di Apakah Parabola Bisa Dipakai di Pedalaman.

Perangkat gabungan memang ada

Sebagian receiver satelit sekarang menyediakan aplikasi dan pemutar video dari internet. Itu tambahan, bukan pengganti: bagian yang menerima siaran tetap tuner satelitnya. Kalau Anda menimbang perangkat semacam itu, pastikan di lembar spesifikasinya tertulis dukungan DVB-S2. Tanpa baris itu, perangkat tersebut sebenarnya kotak Android biasa yang diberi nama menyerupai receiver.

HalReceiver parabolaSTB Android
Sumber tontonanSatelitInternet
Lubang antenaAdaTidak ada
Biaya pemakaianPaket berlanggananKuota data, plus langganan aplikasi
Saat internet matiTetap jalanBerhenti
Kartu langganan parabolaTerbacaTidak berlaku

Mana yang cocok untuk rumah Anda

Tiga keadaan yang paling sering ditemui:

  • Internet terbatas atau mahal. Receiver parabola jadi pilihan utama, dan perangkat Android paling banter jadi pelengkap sesekali.
  • Internet lancar dan tidak berkuota ketat. Keduanya bisa berdampingan; parabola untuk tontonan harian, Android untuk tayangan yang tidak ada di paket.
  • Sering mati listrik atau jaringan. Perangkat yang tidak bergantung jaringan lebih bisa diandalkan, asal listriknya ada.

Boleh dipakai bersama di satu televisi?

Boleh, keduanya tinggal dicolokkan ke port HDMI yang berbeda, lalu Anda berpindah lewat tombol sumber masukan di remot televisi. Untuk televisi lama yang portnya terbatas, pilihannya dibahas di Pasang Receiver ke TV Lama Tanpa HDMI.

Satu hal lagi yang sering ditanyakan pembeli: remot. Remot bawaan perangkat Android biasanya bertombol sedikit dan mengandalkan tombol arah, sementara remot receiver punya tombol angka untuk melompat ke nomor channel. Kebiasaan menonton di rumah menentukan mana yang terasa lebih nyaman, dan itu bukan soal sepele untuk penonton yang hafal nomor channel favoritnya.

Apakah STB Android bisa menangkap siaran digital biasa?

Tidak, kecuali perangkatnya memang menyebutkan tuner siaran terestrial di spesifikasinya. Perbedaan perangkat siaran digital dan parabola dibahas di STB TV Digital atau Parabola.

Kalau televisinya sudah smart TV, perlu STB Android lagi?

Biasanya tidak. Smart TV sudah menjalankan aplikasi sendiri, jadi kotak Android tambahan hanya berguna kalau aplikasi di televisinya sudah tidak diperbarui atau terasa lambat. Yang tetap tidak bisa dilakukan keduanya adalah menerima siaran dari piringan, dan gambaran utuh perangkat parabola ada di Panduan Lengkap Parabola Matrix Garuda.